Aku hanya
manusia. Wajar jika punya cita.
Aku hanya ingin
dua hari dalam hidupku orang akan ingat akan aku. Saat usia genap 17 dan usia
20. Terlalu muluk memang. Umur genap 11 penah menjadi momen terakhir dalam
catatan hidupku d masa-maasa polos itu. Selebihnya aku tidak pernah ingat
dengan tanggal ini. Hingga tiga tahun lalu.
Saat genap 17
–tepat tiga tahun lalu, semua berubah.. Aku tak ingin lg berharap –walau kini
setiap hari org mengingat kenakalanku. Pernah terbersit ini tanggal terindah
dalam hidupku. Namun, manusia hanya berharap. Dan Allah berkehendak lain.
Saat genap 18
–tepat dua tahun lalu, ide gila mulai keluar. Dua asa yg pernah menancap di
benakku : ini tanggal mnyempurnakan separuh dienku, dan menjadi entrepreneur
muda sebelum hari ini. Ya yang namanya saja jiwa muda –walau kadang gila. Entah
baru minum baygon waktu itu –dibayar berapa sma baygon bos?. Yang jelas semua
orang yang membaca berfikir ini gila. Benar-benar gila. Yah namanya saja
manusia. Pasti pernah berfikir gila.
Saat genap 19 –lagi-lagi
“tepat” satu tahun lalu, aku sadar kebodohan. Aku mulai merubah arah hidupku.
Aku berdoa agar kiranya Allah memudahakan langkahku. Saat itu aku mulai
berencana untuk berpuluh-puluh tahun kedepan dalam hidupku. Bocah gila. Aku
seperti ingin mewarnai langit –cet langet maksudnya. Bagaimana mungkin punya
cita seolah manusia sempurna. Ya yang namanya saja usaha.
Dan hari ini.
Saat genap 20 –ga pake tahun lalu lagi kaleeeee. Aku hanya ingin menjadi
diriku. Berusaha punya kehidupan lebih baik di hari-hari setelah ini dan di
akhir umur dunia. Aku hanya ingin menjadi diriku. Bukan orang yg bertopeng
–kuga, power rangers, dan para super hero lain selain superman dan wonder
woman.
Mungkin ini
hari terakhir aku mengingat hari genapku. Justru aku lebih baik berfikir umurku
berkurang satu tahun lagi. Dan aku belum membuat dua insan itu tersenyum.
Wajahnya letih mengurus anak laki-laki semata wayangnya. Keluargaku. Dan seseorang
yg menungguku.
Masih bnyak
asaku dibanding dua hal itu. Tetapi, keduanya akan terwujud suatu waktu. Hanya menunggu
waktu.
Terima kasih
bagi seluruh orang-orang yang kini dengan berbagai caranya mengingat orang gila
sepertiku. Karena bagaimanapun, itulah aku. Terima kasih telah menggangap aku
hadir dalam hidupmu.
Terima kasih
karna masih mau hidup bersamaku. Karna aku bukan lagi durjana. Aku hanya
pujangga jiwa demi melipur laraku.
Kepala dua,
berarti lembar baru. Segalanya masa lalu. Walaupun jadi benalu. Yang penting
dalam hidup ini jangan pernah layu. Tumbuhlah bagai pohon kayu.